Diskusi “Gender dan Agama dalam Seni dan Media” (Jakarta, 21 April 2012)

Serial FGD Gender dan Seksualitas 3:
“Gender dan Agama dalam Seni dan Media” 

Jakarta, Newseum Café
21 April 2012, jam 14.00-17.00 WIB

FGD “Gender dan Agama dalam Seni dan Media” bertujuan untuk memetakan sejumlah praktik dalam seni dan media yang merespon isu mengerasnya identitas agama akhir-akhir ini maupun melakukan pembacaan ulang atas teks agama dengan menyodorkan gender sebagai suatu perspektif baru. Peserta FGD, terdiri dari seniman, aktivis, dan akademisi yang memiliki kepedulian atas isu gender dan seksualitas, akan melakukan evaluasi atas apa yang belum dilakukan dalam praktik-praktik tersebut dan menelusuri kemungkinan kerja sama di masa yang akan datang.

 FGD “Gender dan Agama dalam Seni dan Media” merupakan bagian dari serial  diskusi tentang gender dan seksualitas yang diinisiasi oleh jaringan SPIN (Simposium Pertunjukan di Indonesia – http://spin-network.net/). Telah ada dua FGD sebelumnya: “Pertunjukan Gender dan Seksualitas” di Yogyakarta (2009) dan “Bedah Jelajah Moda Artikulasi Baru” di Jakarta (2010).

FGD kali ini diselenggarakan oleh tim kreator dan pendukung pertunjukan Goyang Penasaran.

Diskusi bersifat terbatas dan hanya terbuka bagi 15 peserta penonton/ pengamat. Jika Anda berminat menghadirinya, mohon kirimkan email ke:
goyangpenasaran@teatergarasi.org atau
committee@spin-network.net
(Tim kordinator diskusi: Olin Monteiro, Intan Paramaditha, Naomi Srikandi) 

Pendaftaran terbuka sampai tanggal 19 April 2012.

 

 

TERMS OF REFERENCE
FOCUS GROUP DISCUSSION

FGD Gender dan Seksualitas:
Gender dan Agama dalam Seni dan Media
Jakarta, 21 April 2012

LATAR BELAKANG DAN TUJUAN

Setelah tumbangnya rezim Suharto, ekspresi gender, seksualitas, dan agama mengemuka di ruang publik dalam beragam bentuk. Jika pemakaian jilbab sempat dilarang di sekolah-sekolah pada masa Orde Baru, kini ia hanyalah satu dari sekian banyak atribut keagamaan yang menandai kebebasan berekspresi di ruang publik. Di sisi lain, era reformasi ditandai dengan keterbukaan dalam membicarakan isu-isu seksualitas di media maupun seni seperti sastra, film, teater, seni pertunjukan, dan seni rupa. Gender dan seksualitas merupakan wacana yang tak terpisahkan dari upaya membayangkan dan meredefinisi Indonesia dalam satu dekade terakhir. Namun proyek mereka ulang Indonesia tidak tunggal dan diwarnai oleh tegangan; keragaman ekspresi juga melahirkan kegelisahan yang berujung pada kekerasan berbasis gender yang mengatasnamakan agama. Sepanjang tahun 2010, penyensoran dan aksi kekerasan terjadi pada konferensi ILGA di Surabaya, lokakarya kelompok transgender di Depok, dan Q Film Festival di Jakarta. Seksualitas perempuan dan LGBT kerap diposisikan berseberangan dengan moralitas dan agama serta menjadi arena pertarungan kepentingan politik. Kecenderungan ini ditegaskan oleh pembentukan Satgas Anti Pornografi dengan ketua harian  Menteri Agama Suryadharma Ali, yang kemudian menyebut rok di atas lutut sebagai bentuk pornografi.

Pada saat yang sama, beberapa seniman telah berupaya perspektif berbeda dalam menghadirkan hubungan antara gender dan agama. Dalam sastra kita menemukan karya-karya dari Abidah El Khalieqy hingga Ayu Utami yang mencoba menyodorkan tafsir yang lebih terbuka atas posisi perempuan dalam teks agama. Di ranah film, misalnya, kita melihat isu poligami ditampilkan secara lebih plural dalam Berbagi Suami, hadirnya suara non-heteronormatif yang merespon kekerasan atas nama agama dalam Madame X, maupun kompleksitas hubungan waria sebagai seorang ayah dari putri yang mengenakan jilbab dalam Lovely Man. Berangkat dari perlunya memetakan nilai penting sejumlah kerja yang telah dilakukan dan pertanyaan tentang apa-apa yang belum tercapai, FGD ini bertujuan melakukan evaluasi atas bagaimana hubungan gender dan agama direpresentasikan dalam seni dan media.

Tema FGD tentang “gender dan agama” merupakan inisiatif para seniman dan pendukung proyek teater Goyang Penasaran yang mencoba mengolah isu-isu terkait dan berharap dapat bertukar gagasan dengan individu maupun kelompok lain yang memiliki kepedulian yang sama. Proyek Goyang Penasaran sendiri sangat dipengaruhi oleh dua FGD gender dan seksualitas terdahulu yang diselenggarakan oleh SPIN Network, jaringan aktivisme budaya yang lahir dari Simposium Pertunjukan di Indonesia (SPIN) di Yogyakarta, 1-3 Desember 2009. FGD di Yogyakarta (2 Desember 2009) dan di Jakarta (21 Mei 2010) mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi dalam advokasi gender dan seksualitas.* Salah satu hal yang muncul dalam diskusi adalah bagaimana politik identitas telah berhasil mendorong penguatan-penguatan komunitas di satu sisi namun di sisi lain menghadapkan pekerja seni maupun aktivis dengan masalah pengotakan dan marjinalisasi oleh publik. “Isu perempuan” dan “isu LGBT” dianggap eksklusif dan seolah terlepas dari skema sosial politik yang lebih luas. Kedua forum diskusi membahas keberhasilan strategi tertentu dan melakukan kritik atas sejumlah moda artikulasi yang cenderung menegaskan pemisahan ini. Namun meningkatnya kekerasan berbasis gender atas nama agama sejak diadakannya kedua FGD tersebut menggarisbawahi kebutuhan bersama menemukan ruang dan bahasa baru yang memperbincangkan isu gender dan agama secara kritis.

TUJUAN

 FGD “Gender dan Agama dalam Seni dan Media” bertujuan untuk:

  1. Memetakan sejumlah praktik dalam seni dan media yang merespon isu mengerasnya identitas agama akhir-akhir ini maupun melakukan pembacaan ulang atas teks agama dengan menyodorkan gender sebagai suatu perspektif baru.
  2. Melakukan evaluasi atas apa yang belum dilakukan dalam praktik-praktik tersebut dan menelusuri kemungkinan kerja sama di masa yang akan datang.

 PELAKSANAAN KEGIATAN

A)PESERTA
Peserta dalam FGD ini terdiri dari partisipan FGD gender dan seksualitas 2009 dan 2010 dan rekan-rekan baru (lihat lampiran). FGD ini juga menyediakan tempat terbatas untuk observer.

 B)TEMPAT DAN WAKTU
Acara ini akan diselenggarakan pada:
Tempat : Newseum café
Waktu : 21 April 2012, jam 14.00 – 17.00 WIB

 C) FORMAT ACARA
Dalam diskusi, peserta menyiapkan sejumlah pertanyaan atau refleksi yang terkait dengan:
1)   Observasi atas bagaimana isu gender dan agama dimunculkan dalam seni dan media di ruang publik.
2)   Proyek individual/kolektif peserta berupa karya seni maupun aktivisme di media terkait dengan isu gender dan agama.

Peserta dapat membagi tulisan atau menyiapkan presentasi audiovisual atas proyek yang dilakukan/ sedang berjalan.

*Rekap/transkrip audio diskusi FGD sebelumnya dapat dilihat di situs SPIN Network: http://spin-network.net

Untuk berita terkini, ikuti akun Twitter @spin_network atau @goyangpenasaran

Advertisements
%d bloggers like this: